Lore Terbaru Ryoma Menceritakan Awal Peperangan dengan Lu Bu

Lore Terbaru Ryoma Menceritakan Awal Peperangan dengan Lu Bu
Ryoma

Channel YouTube Arena of Valor (AOV) baru saja mem-posting sebuah lore terbaru untuk Ryoma, the Ronin. Dalam ceritanya, Ryoma bertemu dengan panglima misterius saat berkelana di sekitaran Cape of Wings. Panglima perang tersebut tampaknya menginginkan sesuatu dari Ryoma.

Siapa dia? Dan apa yang hendak ia rencanakan?

Suatu ketika, Ryoma berhadapan dengan sejumlah prajurit di Cape of Wings. Saat ia menarik Naginata-nya dan mengela napas dalam-dalam, prajurit tersebut sudah terkapar di tanah dan mengerang kesakitan. Lalu, Ryoma berjalan ke arah seorang wanita dan pria muda di sisi jalan. Ia meyakinkan bahwa kini panglima perang akan berhenti mengganggu mereka sekarang.

Setelah berbicara dengan wanita dan anak tersebut, Ryoma mempelajari bahwa panglima perang yang berkuasa di wilayah ini menggunakan kekuasaan dan pemaksaan kepada setiap pria untuk menjadi prajuritnya. Jika Ryoma tak melewati jalan tersebut di pagi hari, mungkin ibu ini akan kehilangan anaknya.

“Sekarang pergilah,” katanya kepada prajurit-prajurit tersebut.

Ryoma Gunslinger 800x533


Namun sebelum matahari terbit, sebuah langkah kaki kuda terdengar dari kejauhan. Melihat para prajurit yang langsung bersujud dan gemetar, orang ini pasti merupakan raja mereka. Penunggang kuda tersebut turun dari tunggangannya dan melihat dengan tajam ke arah Ryoma serta prajuritnya.

“Aku tak pernah melihatmu sebelumya di sekitaran sini,” ujar sang panglima perang.

Pria ini memiliki tampilan yang gagah, jenggot panjang dan tebal. Ryoma tak menyangka bahwa panglima ini jauh lebih tua dari yang ia bayangkan. Tanpa menjawab, Ryoma memberikan isyarat kepada ibu dan anak tersebut untuk pergi; dan secara mengejutkan, panglima tersebut membiarkannya.

“Siapa namamu?” Tanya panglima perang misterius kepada Ryoma.

“Aku tak punya kewajiban untuk memberitahumu,” jawabnya.

Mendengar jawaban tersebut, panglima perang pun mengangkat alisnya.

“Baiklah orang luar, Anda dapat melakukan apa yang kau inginkan. Tapi Anda telah melukai prajuritku, dan saya pikir akan sangat tak adil jika saya membiarkan Anda pergi tanpa mengetahui siapa nama Anda,” tambahnya lagi.

Setelah mengembara cukup lama di Cape of Wings, Ryoma belajar bahwa mengabaikan segala jenis provokasi yang didapatkan. Baginya, ia harus tetap bijaksana dan jeli agar tidak terlibat dalam pertarungan yang tidak perlu. Untuk itu ia menjawab sekenanya.

“Pemuda itu menolak untuk bergabung, apakah Anda tidak lihat?” ujar Ryoma.

“Kami membutuhkannya,” jawab sang panglima perang singkat.

“Anda harus menghargai pilihannya,” seru Ryoma.

Panglima perang tersebut pun tersenyum pahit dan berkata, “Orang luar, Anda baru di sini, dan ada banyak hal yang tidak kamu ketahui. Apakah kamu pernah mendengar nama Lu Bu?” tanyanya.

Dread Knight Lu Bu (1)


Ryoma pun menggelengkan kepalanya.

“Ia adalah pria paling kejam di kota ini. Ke manapun dia pergi, dia akan membakar, menjarah, dan juga membunuh. Teriakan meminta belas kasihan dari orang-orang pun menggema di udara. Ia baru saja menyerbu perkemahanku beberapa bulan yang lalu, membunuh seluruh pasukanku, dan menculik seorang gadis yang sudah kuanggap seperti anak perempuanku,” jelasnya.

“Ia pasti akan kembali lagi, wahai orang luar, karena ia sangat kejam dan merupakan putra naga, Fanir! Semua warga takut akan kekuatan naga, aku tahu, tapi saya harus memaksa orang-orang untuk menjadi seorang prajurit dan membentuk pasukan baru, atau kita tak akan memiliki kesempatan ketika Lu Bu menyerang,” tambahnya lagi.

“Kamu berhasil mengalahkan prajurit-prajurit elite milikku, yang mana itu membuktikan kelayakkan Anda. Apakah Anda mau bergabung ke dalam pasukan saya?” tanya sang panglima perang.

Memikirkan tawaran tersebut, Ryoma pun terdiam dan menatapnya dengan penuh kewaspadaan.

“Tentu saja warga biasa tak perlu melawan Lu Bu jika kamu bisa mengalahkannya,” ucap panglima perang terkait kecemasan Ryoma.

Matahari pagi pun terbit, semakin banyak orang yang muncul dan melihat ke arah mereka. Khawatir kehadiran kedua orang ini mengundang banyak warga, Ryoma pun berkata, “Saya akan mempertimbangkan tawaran ini, tetapi mari kita bicara detailnya di tempat lain,” ujar Ryoma singkat.

“Kamu selalu diterima di perkemahanku,” jawab panglima perang, sambil menyarankan Ryoma dan para prajurit untuk mengikutinya. Satu hal yang tidak Ryoma lihat adalah senyuman samar yang tersibak di wajah sang panglima perang.

=== 

Hilmy Ramadhan

Seorang manusia yang suka jejepangan, baik hati, dan rajin menabung

Facebook 

Leave a Reply