Demi Kebebasan, Taara Rela Bersekutu dengan Iblis

Demi Kebebasan, Taara Rela Bersekutu dengan Iblis
Taara

Jika kemarin kita sudah melihat penambahan lore dari Ryoma dan Violet, kini giliran Taara yang juga mendapatkan latar belakang ceritanya. Apakah nantinya akan ada kejutan-kejutan menarik di dalam lore tersebut? Mari kita simak bersama-sama berikut ini.

***

Dua hari setelah tentara Inferi menembus garis pertahanan pertama di pintu masuk barat Mount Orun, berita pun cepat menyebar ke berbagai penjuru. Seluruh pintu masuk Mount Orun ditutup, tak ada yang boleh masuk selain Vedas yang memberikan izin (untuk masuk dan keluar).

Ketika berita tersebut mencapai di Fiska, seluruh penduduknya membanjiri depan pondok Taara untuk meminta penjelasan.

Taara Tribal Chief 800x533

Taara sendiri rupanya baru mendengar berita ini, ia tak menjamin apa pun, namun ia akan berbicara dengan High Priest di Regional Temple untuk mencari tahu penyebabnya. Ia pun akan melakukan segala cara untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Ia berpikir bahwa mungkin penutupan jalan tersebut berhubungan dengan invasi makhluk kegelapan (yang mungkin bisa menyebar ke Fiska, karena desa tersebut mengarah ke pintu selatan Mount Orun). Yang menjadi pertanyaan bagi Taara adalah, mengapa Vedas memutuskan untuk menyegel gunung tersebut.

Bagaimana dengan penduduk-penduduk lain di Iron Mountains? Apakah Vedas telah menelantarkan kita? Taara berpikir banyak hal sembari membuka gerbang. Ketika pintu terbuka para High Priest tengah berdoa dan berlutut di hadapan patung perempuan Veda yang sangat besar di tengah kuil. Patung tersebut diam dan memiliki tatapan lembut seperti yang selalu dilakukannya.

Divine Firestone Taara

“Tak ada alasan yang diberikan untuk menyegel gunung,” kata High Priest tersebut tanpa membalikkan dirinya ke arah Taara, bahkan ia (Taara) belum berbicara sama sekali.

“Baiklah,” jawab Taara sambil bermuka masam karena kesombongannya. “Dengan adanya bahaya yang mengancam, izinkan saya untuk memindahkan penduduk desa ke tempat yang lebih aman,” tambahnya lagi.

“Peramal meminta Anda, dan juga seluruh Fiska untuk menjaga barisan pertahanan selatan Mount Orun.”

Taara cukup terkejut dengan kata-kata orang tersebut.

“Pasti ada kesalahan di sini. Mereka meminta kita, manusia, untuk melawan makhluk kegelapan dari Inferi? Itu sama saja dengan bunuh diri!” Taara pun menyanggah rencana yang diberikan oleh High Priest.

“Apakah kamu ingin melawan Vedas?” tanyanya singkat.

“Tapi di sana ada wanita dan anak-anak…”

“Mereka seharusnya merasa bangga bisa mengabdi kepada Vedas,” ujar High Priest datar dan melihat ke arah Taara. “Anda sepertinya mulai mempertanyakan kepercayaanmu sendiri, Taara. Haruskah saya khawatir?” tambahnya lagi.

Taara mengigit bibirnya, High Priest tampaknya terlalu buta untuk melihat, tapi dia tahu yang sebenarnya. Memang, Vedas mengajari banyak hal kepada manusia, mulai dari pertanian, Metalurgi (ilmu yang mempelajari sifat-sifat kimia dari logam untuk digunakan sehari-hari), obat-obatan, hingga sihir—tapi itu semua dilakukan untuk menjadikan manusia sebagai alat mereka.

Vedas hanya akan melindungi mereka yang percaya dan mengabdi kepadanya. Untuk orang-orang lainnya, ada jutaan cara untuk mengubah mereka (jika cara tersebut gagal, mereka akan menandai orang-orang tersebut sebagai penganut ajaran sesat dan meminta mereka untuk bekerja sampai tak bisa lagi untuk berpikir).

Melihat Taara tidak memberikan jawab apa-apa, High Priest itu kembali mengultimatumnya. “Saya telah memasang sebuah mantra di sekitaran desa. Siapa pun yang keluar akan ditandai oleh sebuah noda. Ketika gunung dibuka kembali, para pengkhianat harus membayar kesalahan mereka,” tuturnya.

Taara 800x533

Di sudut pandangannya, api yang semakin gelap memuncak dan hendak melahap setiap akal sehat yang tersisa dari diri Taara. Sarung tangannya pun berdecit mengeluarkan suara ketika ia mengepalkan tinjunya, namun pada akhirnya suara itu berhenti.

Tak ada yang bisa dilakukan Taara saat ini.

Ketika Taara menutup pintu gerbang, ia melakukannya dengan sangat keras dan membuat tanah berguncang. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kekuatannya tak berguna. Badai salju pun datang dengan sangat keras; sampai membekukan bulu matanya. Taara membiarkan salju itu perlahan-lahan membekukan langkahnya di depan kuil. Ia membiarkan kakinya membeku untuk menahan keinginan melarikan diri bersama dengan penduduk lainnya.

“Kematian apa pun pilihannya, ya?” sebuah suara manis muncul dari belakang Taara. Ia pun membalikkan badannya untuk melihat sesosok wanita tersenyum ke arahnya. Wanita ini memiliki sepasang sayap berwarna hitam di bagian punggung dan tanduk di kepalanya. Entah bagaimana caranya ia bisa bertahan disituasi dingin seperti ini menggunakan pakaian yang minim.

Veera

“Kamu adalah salah satu makhluk kegelapan…” Taara mengambil langkah ke belakang dan bersiap-siap untuk menyerang.

Wanita itu hanya tertawa kecil.

“Oh tak perlu tegang begitu sayang. Aku tak bermaksud untuk mendengar percakapan kamu dengan orang tua itu, tapi aku rasa kamu butuh bantuan,” ujar sang iblis.

“Jika kamu menginginkan nyawaku ataupun orang-orang desa, maka kamu akan kecewa,” timpalnya.

“Tolonglah, aku bukan iblis seperti itu,” jawabnya.

Taara tampak menunjukkan ketidakpercayaannya.

“Aku adalah iblis yang akan memberikan kamu pilihan ketiga, pilihan yang memberikan kehidupan bagi orang-orang Fiska,” tuturnya sambil memberikan senyuman yang paling indah ke arah Taara. “Dan tentu saja kebebasan mereka.”

==

Hilmy Ramadhan

Seorang manusia yang suka jejepangan, baik hati, dan rajin menabung

Facebook 

Leave a Reply